Berawal dari survey yang dilakukan oleh Pfizer Indonesia kepada beberapa pemangku kepentingan stakeholders, ternyata output yang kita terima mengisyaratkan bahwasanya aktivitas community yang selama ini dilakukan, dianggap tidak maksimal. Untuk itu perlu dilakukan sebuah program kemasyarakatan yang sifatnya kontinyu dan sesuai dengan core competence kita sebagai salah satu perusahaan farmasi multinasional terbesar di Indonesia. Sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki olehnya, yakni Community, Pfizer Indonesia merasa perlu untuk secara aktif ikut serta dalam mengkampanyekan pola hidup sehat di masyarakat. Karena, bangsa dengan kualitas hidup sehat akan menjadi dasar dari terciptanya bangsa yang kuat.
Dengan latar belakang tersebut, maka Pfizer Indonesia meluncurkan program Employee Volunteerism Program (EVP), atau “Bangga Jadi Relawan”. Sebuah program kemasyarakatan yang memadukan unsur pendidikan dan kesehatan, dengan melibatkan komponen internal perusahaan, yakni para karyawannya sebagai relawan.
Mungkin selama ini persepsi tentang program EVP - Bangga Jadi Relawan, atau biasa kita sebut “Relawan”, hanyalah sebatas aktivitas outreach rekan-rekan ke sekolah-sekolah binaan Pfizer Indonesia. Padahal sebenarnya, aktivitas ini hanyalah sebagian dari keseluruhan program.
Aktivitas pertama, sebenarnya telah dimulai semenjak bulan Oktober 2004. Beberapa rekan Pfizer Indonesia secara sukarela menyediakan waktunya mengunjungi beberapa lokasi sekolah didekat pabrik kita di Gandaria - Pekayon, untuk melakukan survey awal. Pemilihan lokasi disekitar pabrik memang disengaja, karena itulah lingkungan terdekat kita. Dari sanalah berawal tahap pertama dari program EVP, yakni Perbaikan Fasilitas Fisik Sekolah atau tahap Renovasi. Kelima sekolah yang kemudian menyerahkan proposal kepada kami dan terpilih untuk ikut dalam program EVP ini adalah SDN Pekayon 18 Pagi; SDN Pekayon 02 Petang; SDN Pekayon 04 Petang; SDN Pekayon 14 Petang; dan SDN Kalisari 08 Pagi.
Renovasi yang diberikan bentuknya bervariasi, tergantung dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Namun renovasi ini harus sesuai dengan semangat dan tujuan dari program EVP, yakni menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat dan layak.
Tahapan yang memakan waktu hingga pertengahan tahun 2005 ini pada akhirnya berhasil membantu kelima sekolah tersebut untuk memiliki lingkungan yang (diharapkan) lebih sehat, dengan diperbaikinya fasilitas MCK, sanitasi, UKS, dan kantin mereka. Satu diantaranya mendapatkan bantuan perbaikan ruangan kelas, karena saat kita melakukan survey, atap bangunan mereka sudah jebol dan hampir runtuh.
Setelah tahapan Pertama selesai, kita memulai tahapan kedua di bulan November 2005. Tahap inilah yang sudah sangat familiar di kalangan rekan-rekan Pfizer Indonesia, yakni tahap pemberian Edukasi Pola Hidup Sehat kepada anak-anak murid kelas 2 di semua SD yang terlibat dalam program ini. Pemilihan sasaran edukasi, yakni murid kelas 2 SD, berdasar pada pertimbangan usia ideal dari anak-anak untuk menyerap informasi dalam waktu sedini mungkin, sekaligus diharapkan dapat menjadi pemicu perubahan perilaku mereka untuk menjadi lebih sehat. Perlu diingat, SD-SD yang terlibat dalam program ini, adalah SD-SD yang anak-anak muridnya kebanyakan berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah, dengan rata-rata orang tua murid bekerja sebagai buruh, tukang ojek, satpam, pemulung, supir, kernet, bahkan ada yang bekerja secara serabutan.
Edukasi yang diberikan diambil dari modul yang telah disusun bersama oleh sekelompok Relawan, berdasarkan data-data yang diambil dari survey ke tiap sekolah. Dari hasil diskusi Relawan, terciptalah 14 topik materi yang antara lain adalah Kebersihan Tangan, Kaki, dan Rambut; Kesehatan Gigi; P3K; Cacingan; Makanan Bergizi; sampai dengan topik apakah Makanan Jajanan itu Sehat?.
Modul yang disusun tersebut, tentunya mendapatkan banyak masukan dari pakar-pakar yang sesuai dengan bidangnya, seperti dokter, maupun psikolog anak. Untuk itu, kita mendapatkan dukungan dari Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi ), yang telah kita kenal sebagai tokoh pendidikan anak, sekaligus juga merupakan Ketua Komnas Anak.
Bahkan, sebelum memulai terjun ke lapangan, Relawan (yang sampai saat ini berjumlah kurang lebih 80 orang) mendapatkan pembekalan singkat dari Kak Seto. Pembekalan tersebut sangat berguna dalam mengarahkan Relawan menghadapi anak-anak usia tersebut. Apalagi mengingat hampir semua Relawan belum mempunyai pengalaman jadi “guru” SD. Selain itu dalam penyampaian materi ini, Relawan dibantu oleh sarana 2 boneka tangan yang menjadi icon EVP, yaitu Fauzan dan Azeli
Sampai sekarang, sudah ada 8 (delapan) kloter yang telah diberangkatkan, termasuk kloter yang beranggotakan dewan direksi Pfizer Indonesia (http://www.pfizerpeduli.com/pfizerpeduli_detail.aspx?id=3)
Tak terasa, tahapan kedua juga telah berakhir. Dan pada bulan Juli 2006, kita melaksanakan rangkaian tahapan ketiga program ini, yakni tahapan Capacity Building.
Aktivitas dalam tahap ini dimaksudkan untuk memberdayakan para guru di sekolah-sekolah tersebut, untuk melestarikan program EVP ini, sekaligus mengelola lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan layak. Kegiatan pertama, kita mengadakan Pelatihan 2 hari yang mengetengahkan tema “Manajemen Sekolah Sehat”. Tema ini bermakna kita tak hanya berusaha untuk menciptakan sekolah yang sehat secara fisik, melainkan sehat juga secara mental.
Jadi, para guru tak hanya diberikan materi bagaimana menciptakan sekolah yang sehat, dan bersih, namun juga diberikan materi yang menunjang terciptanya manajemen yang sehat bagi sekolah-sekolah tersebut. Pelatihan yang dilakukan atas kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional ini, menghadirkan beragam pembicara. Antara lain, Pakar Pendidikan Drs. H. Arief Rahman, M.Pd, pemerhati pendidikan dari Center for Betterment Education Darmaningtyas, dan juga dari Public Interest Research and Advocacy Center, Hamid Abidin. Selain juga kita menghadirkan pembicara dari Depdiknas, khususnya dari Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. Dan sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, kita akan mengadakan sebuah Kompetisi Program Pengembangan Sekolah Sehat, yang diikuti oleh sekolah-sekolah tersebut.
Kita berharap melalui pelatihan ini, para guru dapat melanjutkan program yang telah dirintis Pfizer Indonesia, sekaligus menjaga keberlangsungannya. Dan diharapkan sekolah-sekolah yang dibina ini, bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya, khususnya dalam melakukan manajemen sekolah sehat.