“Korban Jadi Relawan”
Perjalanan Kemanusiaan
Tim “Buka Hati Bantu Sesama” PT. Pfizer Indonesia
Berbagi dengan sesama adalah sebuah pengalaman yang indah. Pengalaman yang mampu mengingatkan, bahwa ditengah kesibukan ini, ada saudara-saudara yang sangat menanti uluran tangan kita…
Sebuah komunitas yang baru saja terkena bencana dahsyat …
Komunitas Korban Gempa Jogja
Inilah sedikit cerita dari perjalanan tim Relawan “Buka Hati Bantu Sesama” PT. Pfizer Indonesia
Jumat, 02 Juni 2006,
Pukul 16.00 kami tiba di bandara Adi Sutjipto Yogyakarta.
Saat kami mengedarkan pandangan ke sekeliling, mulai tampak jejak musibah tanggal 26 Mei 2006 yang lalu. Beberapa bagian gedung bandara tampak runtuh, dan rusak berat. Tak ayal, ditempat ini 3 orang menjadi korban jiwa musibah gempa kemarin.
Setibanya di kantor representatif Pfizer Jogjakarta, kami disambut ramah oleh para karyawan, yang kesemuanya adalah korban dari musibah gempa ini. Aura kesedihan masih tampak sekilas di wajah mereka, namun kami sangat salut kepada rekan-rekan Jogja. Sekalipun mereka sendiri menjadi korban, mereka tetap bersemangat menjadi Relawan kita. Istilahnya, “Korban Jadi Relawan”.
Tak lama kemudian kami mengadakan rapat koordinasi Tim untuk perjalanan distribusi bantuan. Kami memutuskan untuk berkonsentrasi di 3 tempat yang berdasarkan informasi lapangan mengalami kerusakan terparah, dan masih membutuhkan banyak bantuan.
Pada akhirnya, kami membagi tim menjadi dua bagian agar perjalanan dapat terlaksana dengan efektif. Satu tim menuju ke arah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah tepatnya ke desa Panggil-Sengon; dan Tim lainnya menuju ke dua tempat yakni Imogiri, Kab. Bantul dan Patuk, Kab. Gunung Kidul.
Kami sempat mendengar kabar, bahwa kerap perjalanan distribusi barang ke lokasi bencana mengalami penjarahan. Terlebih di siang hari. Namun apa boleh buat, kami tak mungkin melakukan distribusi kesana di malam hari.
Sabtu, 03 Juni 2006
..Tepat seminggu terjadinya gempa besar Jogja dan sekitarnya..
Tim Relawan sudah siap untuk berangkat bertugas membawa in-kind donation yang dibeli dari total sumbangan rekan-rekan Pfizer Indonesia.
Dan pukul 09.15, setelah barang-barang untuk ketiga lokasi selesai dimuat di dua mobil box, kamipun siap memulai perjalanan kami.
Satu mobil box bergerak menuju Prambanan, Klaten dan satu lagi menuju arah Imogiri, dan Patuk.
Kebetulan di daerah Prambanan ini, banyak bermukim kerabat dari rekan Pfizer Jogja. Sehingga, setidaknya tim Relawan Pfizer Jogja ke area ini, cukup mengenali lokasi yang akan dijelajahi untuk pendistribusian.
Kami berangkat beriringan, ada sekitar 2-3 mobil yang mengawal masing-masing mobil box. Kami menempel stiker bertuliskan “Keluarga Korban Gempa” di setiap kendaraan kami, sebagai usaha agar luput dari serbuan korban yang biasanya menghentikan truk-truk bantuan di perjalanan.
Prambanan
Rombongan tiba di Prambanan sekitar pukul 10.00. Dengan beranggotakan 7 orang, tim Prambanan bergerak ke tiga titik posko di daerah terparah sekitar Prambanan, yakni Panggil - Sengon.
Ternyata kunjungan ke posko-posko ini menjadi kejutan tersendiri untuk para Relawan. Saudara-saudara kita yang tertimpa musibah disana, tak disangka adalah teman-teman lama para Relawan. Musibah ini malah menjadi ajang reuni sekaligus silaturahmi, karena sudah lama mereka tak berjumpa. Dan gempa kemarin, telah mempertemukan mereka secara tak disangka-sangka.
Keadaan di Prambanan sangat menyedihkan. Reruntuhan puing-puing rumah para korban masih berserakan belum tersentuh alat berat. Para korban hanya bisa mendirikan tenda di reruntuhan puing rumah mereka dengan bahan seadanya. Terkadang, di saat hujan, mereka harus rela kehujanan karena tenda-tenda mereka tak cukup kuat menahan deraan hujan dan angin.
Di beberapa tempat, listrik belum lagi menyala. Sehingga di malam hari, keadaan disana sangatlah mencekam. Belum lagi timbul banyak isu seputar gempa susulan yang lebih dahsyat, sampai dengan kabar penjarahan besar-besaran.
Para korban tak lagi dapat beristirahat di malam hari. Mereka lebih memilih untuk tetap terjaga, bergantian mengamankan keluarga mereka.
Kanjengan - Imogiri, Bantul
Rombongan tim Relawan yang kedua dijadwalkan untuk berangkat ke dua tempat. Persinggahan pertama adalah Desa Kanjengan, Imogiri, Kabupaten Bantul.
Disepanjang perjalanan, Relawan sudah disuguhi pemandangan yang mengenaskan. Gedung-gedung kokoh tampak ambruk, sementara di pinggir jalan, banyak korban yang mendirikan tenda seadanya.
Jalanan sangat ramai, dipenuhi truk-truk pengangkut barang dan kendaraan pribadi yang
lalu lalang di sepanjang Kaliurang. Kepadatan dan banjir manusia ini, sempat membuat tersinggung para korban bencana gempa. Mereka merasa tak lebih hanya dijadikan sebagai objek tontonan. Tak jarang kita temui di pinggir jalan tulisan maupun spanduk bertuliskan “Kami bukan Objek Tontonan”; “Kami Butuh Dikasih, Bukan Dikasihani”; atau “Selamat Datang di Objek Wisata Gempa”. Cukup ironis memang.
Perjalanan kesana memakan waktu lebih dari satu jam. Pukul 10.30 kami sampai di posko Kanjengan, Bupati Pesarean. Tampak dihalaman sebuah tenda besar yang menjadi dapur umum yang melayani hampir 4000 jiwa masyarakat sekitar.
Kesibukan tampak jelas disana. Ibu-ibu yang selamat dari musibah, menjadi tenaga sukarela untuk memasak di dapur umum tersebut. Beberapa lelaki desa juga menjadi tenaga sukarela dengan mengangkuti bahan-bahan makanan dari para donatur untuk dimasak disana.
Posko Bupati Pesarean ini rupanya cukup banyak menampung korban. Beberapa korban yang dibantu, datang dari daerah yang cukup jauh. Kabarnya ditempat mereka, bantuan amat sangat minim. Infrastruktur yang rusak parah membuat transportasi bantuan tersendat kesana.
Di posko ini, tim Relawan mendapat kesempatan menyerahkan secara langsung bantuan dari seluruh Rekan Pfizer Indonesia kepada masyarakat yang datang ke posko ini. Ucapan terima kasih yang diucapkan dalam bahasa Jawa yang halus, tak henti-henti keluar dari mulut mereka. Para Relawan tak bisa menahan keharuannya melihat pemandangan ini.
Tak tanggung-tanggung disana, tim Relawan mendapat kehormatan dijamu oleh Bupati Pesarean untuk makan bersama para pengungsi di Dapur Umum. Walhasil tim Relawan mencicipi hidangan yang sangat sederhana, namun luar biasa lezatnya. Mungkin karena pengaruh suasana yang sangat guyub antara Relawan dan masyarakat disana, hidangan sederhana di kamp pengungsi ini terasa seperti hidangan mewah di Restoran ibu kota.
Persahabatan segera terjalin antara Relawan dan penduduk desa disana.
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul
Dari Imogiri, rombongan Relawan melanjutkan perjalanan kearah kabupaten Gunung Kidul. Sengaja kami mengarah ke daerah Patuk, karena meskipun daerah ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul, namun Patuk adalah titik pertemuan antara daerah Dlingo, dan Piyungan, Bantul yang menjadi daerah terparah dalam skala kerusakan dan banyaknya korban jiwa.
Perjalanan kesana membutuhkan waktu yang cukup lama, dan harus melewati daerah pegunungan yang naik-turun dan berhutan. Tim Relawan cukup menikmati perjalanan ini, karena ternyata tanpa diduga pemandangan alam disana sangatlah cantik. Meskipun timbul kesedihan karena sepanjang perjalanan itu banyak rumah hancur. Umumnya penduduk di sepanjang jalan Bantul-Gunung Kidul, tinggal secara sporadis. Kami bertanya-tanya dalam hati, apakah ketika gempa terjadi, mereka bisa menyelamatkan diri? Karena jika dilihat, jarak rumah penduduk satu ke yang lainnya sangat jauh.
Kerusakannyapun sangatlah parah. Mengingat selain daerah tersebut terletak di kaki bukit yang tanahnya tidak stabil dan mudah longsor, daerah tersebut ternyata tepat diatas jalur pergerakan sesar yang menyebabkan gempa besar ini. Bisa dibayangkan betapa hancurnya daerah ini.
Malangnya, tak tampak posko-posko yang biasanya cukup banyak di daerah lain. Posko yang cukup besar baru kami temukan ketika kami mendekati kota kecamatan. Itupun dibuat dengan tenda terpal sederhana. Kami segera meluncur ke Posko Patuk, yang memang telah kami pilih untuk penyaluran sumbangsih Rekan-rekan Pfizer Indonesia.
Hancurnya daerah itu, membuat kami tersentak. Belum lagi kondisi posko yang amat sangat sederhana. Petugas posko, yang ternyata juga korban dan kehilangan hampir separuh keluarganya ini, bercerita bahwa donatur sangat kurang disini. Tak jarang mereka merasa sedih ketika membagikan barang-barang sumbangan kepada warga. Karena jumlahnya yang amat sangat terbatas, sehingga tidak semua warga mendapatkan barang tersebut dan harus digilir pemberiannya.
Senyuman mereka ketika menyambut tim Relawan, tak mampu menyembunyikan kesedihan dan pandangan kosong mereka. Namun, sumbangsih rekan-rekan Pfizer mampu memberi sepercik kebahagiaan untuk mereka.
Perjalanan pulang kami ke Jogja, melewati sebuah pasar yakni pasar Piyungan, Bantul. Disana masih banyak mayat korban yang belum dapat diambil karena tertimpa reruntuhan tembok pasar dan belum ada alat berat yang bisa melakukan tugasnya kesana. Tak ayal timbul bau busuk yang menyengat disana. Semoga saja, saat ini para korban sudah dapat dievakuasi dan dimakamkan dengan layak.
Pukul 16.00 rombongan Relawan tiba kembali di kantor Pfizer Jogja. Kelelahan terbayang di wajah Relawan. Namun keletihan badan terasa sirna mengingat kenangan atas perjalanan kemanusiaan yang sangat membekas di benak dan hati kami.

Demikianlah cerita yang dapat kami rangkum dalam perjalanan kemanusiaan di Jogja dan Jateng. Sumbangsih Rekan sekalian telah membangkitkan sedikit harap di hati mereka, mengetahui bahwa mereka tak sendiri menghadapi musibah ini. Kepedulian rekan sekalian menunjukkan kepada para korban bahwa masih ada saudara mereka nun jauh disana, yang mau membantu meringankan beban mereka.
Terimakasih kami kepada tim Relawan Jogja dalam episode “Korban Jadi Relawan” ini. Tak lupa kami ucapkan juga terima kasih kepada tim Charity “Buka Hati Bantu Sesama” PT. Pfizer Indonesia yang telah membantu terlaksananya fundraising kita, dan untuk membeli barang-barang Donasi hasil sumbangan dari seluruh rekan Pfizer Indonesia.

Salam Buka Hati Bantu Sesama!