Bencana gempa dan terjangan tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias (Sumatera Utara) pada 26 Desember 2004 yang lalu menyisakan kesedihan yang mendalam, tidak hanya bagi para korban yang telah kehilangan keluarga dan harta benda, namun juga kesedihan bagi bangsa Indonesia dan dunia. Ternyata, secara otomatis, bencana tersebut telah menggerakkan hati warga Indonesia untuk berbagi rasa dan kepedulian dengan memberikan bantuan bagi para korban.
Antusiasme karyawan Pfizer untuk menggalang bantuan berupa dana maupun barang bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah tersebut, juga sangatlah tinggi. Tak tanggung-tanggung, di hari kedua musibah terjadi, tanggal 26 Desember 2004 terbentuklah tim relawan Pfizer yang bertugas untuk mengkoordinir keinginan karyawan Pfizer lainnya untuk ikut serta meringankan beban korban bencana alam yang maha dahsyat itu.
Tim relawan bertugas untuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan, seperti misalnya mengumpulkan donasi, baik berupa dana maupun barang; mencari barang-barang ke pusat perbelanjaan untuk kemudian dikirim ke daerah bencana; pengepakan, dan lain-lain.
Rasa kepedulian itu, tak hanya milik karyawan Pfizer yang berada di Ibu Kota, namun juga merambah ke semua daerah yang memiliki representasi Pfizer. Sebut saja Semarang, hingga Manado, semua tak ingin ketinggalan untuk berbagi kasih dengan sesamanya melalui tim Relawan ini.
Hari berlalu, kepedihan, penderitaan saudara kita di Aceh terus terlihat melalui tabung televisi. Berbagai lapisan masyarakat, kaya, miskin, tua, muda sampai anak2, tanpa lelah mengumplulkan segala kebutuhan sehari-hari untuk dikirim ke Aceh. Namun, makin sulit untuk menemukan kendaraan untuk mengirim barang2 tersebut. Segala macam transportasi digerakkan oleh pemerintah, termasuk pesawat militer Herkules.
Serupa halnya dengan karyawan Pfizer Indonesia. Kami memiliki barang, namun susah untuk mendapatkan akses agar barang tersebut dapat dengan cepat sampai pada tujuan. Akhirnya, pada tanggal 31 Desember 2004, 5 hari pasca bencana, bantuan dari Karyawan Pfizer Indonesia mulai dikirimkan dengan mendapatkan fasilitas khusus dari kantor Wapres untuk melakukan loading barang. Menyusul beberapa hari kemudian, di tanggal 4 Januari 2005, bantuan dari Relawan dikirimkan melalui Pelabuhan Udara Halim Perdana Kusuma. Bantuan itu juga menyertakan sejumlah masker, yang memang sangat dibutuhkan ketika itumelalui kantor Presiden kami dibantu agar dapat melakukan loading barang ke pesawat Herkules.
Proses pengiriman bantuan, memang sempat tertunda sekian lama. Namun hal ini dipengaruhi faktor banyaknya pihak-pihak lain yang ingin ikut serta menyumbang ke para korban. Baru ketika tanggal 24 Juli 2005, tim Relawan melalui bantuan dari Pandu Siwi Logistik, mengirimkan bantuan gelombang berikutnya kepada korban bencana di NAD, yang memang ternyata masih sangat membutuhkan.
Beberapa lokasi yang menjadi target gelombang bantuan tersebut antara lain adalah Desa Trieng Matang Ubi, Loksukon, NAD; Lhokseumawe; dan Langsa.
Kebahagiaan yang tersurat dari masyarakat korban bencana kala itu, memberikan kegembiraan berselimut keharuan bagi seluruh karyawan Pfizer Indonesia. Sambil berharap secuil kepedulian mereka, mampu mengurangi kesedihan hati para saudara di daerah bencana.
Kami masyarakat Aceh Khususnya korban Bencana Alam Gempa & Tsunami yang menerima bantuan/sumbangan berupa pakaian dan perlengkapan mandi, serta perlengkapan Sholat dari PT. Pfizer mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan apa yang sudah kami terima akan sangat bermanfaat.Namun demikian kami juga sangat mengharapkan bantuan lainnya yaitu berupa bahan pangan yang paling kami butuhkan. Demikian semoga PT. Pfizer dapat mengerti dan peduli kepada kami…
Kesan dan Pesan dari Masyarakat penerima Bantuan PT. Pfizer Indonesia (yang sudah diterjemahkan dari Bahasa Aceh)