Menata Komunikasi Seksual
Ny. M (32 tahun) mengeluh pada sahabatnya,”Bosan aku! Suamiku tidak kreatif, dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja ‘mainnya’! Kenapa tidak melakukan variasi lain, melakukan pemanasan terlebih dahulu misalnya Aku khan nggak puas!”
Itu yang namanya salah alamat! Mengapa ia tidak mengatakan hal itu kepada suaminya?
Komunikasi seksual secara teori tampaknya mudah, namun tidak dalam prakteknya. Rasa malu, tidak pantas, takut mengecewakan pasangan, dan sebagainya ikut memperkeruh suasana. Padahal, tanpa komunikasi yang baik, tidak mustahil hubungan antar suami istri jadi beku!
Tips membuka keran komunikasi seksual
- Sejak awal pernikahan, berjanjilah dengan suami/istri untuk selalu terbuka dalam tiap hal, termasuk soal hubungan seksual.
- Cari kesepakatan bersama, kapan waktu yang tepat membicarakan masalah seksual.
- Gunakan sarana seperti seminar, buku, atau bahan bacaan ilmiah lain sebagai sumber informasi untuk memperkaya komunikasi Anda berdua.
- Hindari memaksakan suatu bentuk hubungan seksual tanpa persetujuan pasangan.
- Hindari ‘terjebak’ melakukan gaya yang monoton saat berhubungan intim. Sedapat mungkin lakukan variasi.
- Pahami kondisi pasangan. Jika ia sedang tidak mood karena lelah atau sedang banyak masalah, cobalah untuk bersabar dan tidak terlalu menuntut performa prima darinya.
Mitos
PRIA SEJATI MAMPU EREKSI KAPAN SAJA DIINGINKAN
Fakta: Pada masa remaja dan dewasa muda, ereksi memang mudah dicapai dan sangat sering (‘kapan saja’). Membayangkan lawan jenis saja dapat menimbulkan ereksi. Hal ini biasanya disebabkan meningkatnya kadar testosteron (hormon seksual pria) pada masa remaja. Namun, seiring bertambahnya usia kadar ini akan menurun sehingga performa pun tidak sama lagi. Hal ini normal terjadi dan tidak otomatis membuat seorang pria bukan lagi “pria sejati”. Dalam usia yang tidak lagi muda, seorang pria normal pun perlu sedikit ‘bersiasat’, misalnya berusaha menciptakan kondisi rileks dan intim, stimulasi cukup, dan terutama tidak stres.
Mitos
PRIA SEJATI MAMPU EREKSI TERUS MENERUS
Fakta: Sebagian besar pria tidak bisa ereksi segera setelah mencapai ejakulasi. Banyak pria cepat mengalami klimaks segera setelah memulai hubungan seksual, sebelum pasangannya puas. Mitos ereksi berkepanjangan dipicu oleh adegan dalam film dewasa, dimana para pemeran pria seakan-akan mampu ereksi dalam waktu cukup lama. Tentu trik-trik visual dan teknik editing film turut pegang peranan; dalam kenyataannya, sangat sedikit orang yang mampu ‘ereksi terus menerus’. Ereksi terus menerus tidak baik untuk kesehatan alat vital itu sendiri.
Mitos
PRIA SEJATI MENGINGINKAN SEKS SETIAP SAAT
Fakta: Dalam masa remaja, mungkin seks memang menyita seluruh pikiran Anda. Namun seiring bertambahnya usia, datangnya tanggung jawab dan berbagai masalah lainnya membuat seorang pria tidak memikirkan seks setiap saat. Tidak ada batasan normal mengenai frekuensi hubungan seksual, khususnya bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas, bisa sekali sehari atau mungkin sebulan atau dua bulan.
Hubungan seks yang cukup sering namun tidak memuaskan kedua belah pihak lama-kelamaan justru akan mematikan gairah. Gairah dan ereksi yang tidak terwujud membuat penis kurang mendapat zat gizi dan oksigen yang dibutuhkannya. Lama-lama fungsi ereksi bisa terganggu, sehingga yang tadinya hanya problem sesaat akhirnya menjadi masalah permanen. Semakin sering ereksi gagal terwujud, semakin enggan pria mencoba melakukan hubungan seksual. Hal ini dapat terjadi pada pria normal sekalipun.
Komunikasi seksual yang segar dan kreatif perlu agar hubungan Anda dan pasangan selalu mesra. Mengenai caranya, terserah Anda!
Dismat/Artikel/POA I-2006/271005